Wednesday, 14 October 2020

STANDAR BAHAGIA

Matanya berbinar, antusias mengawas sekitar, kedua tangannya memeluk erat pinggang mamak. Kedua kakinya diikat dengan potongan kain "biar ga masuk jari jari" kata mamak. Anak laki-laki itu memakai kemeja kotak kotak. Mengenakan celana panjang cargo yang banyak kantongnya. Kakinya yg diikat kain itu menggunakan sepatu baru yang memang disiapkan untuk hari ini.

Mamak mengayuh pedal sepedanya dengan ringan. Jangankan beban anak kecil, beban puluhan kilo pun mampu dibawa dengan ringan. Mamak terbiasa mengangkut lengkuas, sereh berkarung-karung dengan sepedanya.

Mulut anak diboncengan sepeda itu tak berhenti, kadang bertanya ini itu, lebih sering bercerita atau bernyanyi nyanyi sendiri di boncengan. Anak itu melotot ketika anak-anak yg dilewatinya menodongkan pistol mainan ke arahnya. Lalu ia pura-pura tak melihat dan memalingkan wajahnya.

Dia bahagia, sangat bahagia. Bagaimana tidak, momen ini yang selalu ditunggunya setiap tahun. Momen dimana mamak memboncengnya menemui sanak saudara almarhum ayahnya. Mamak selalu memuji anak itu didepan semua sanak saudara. Mamak tidak pernah ikut kelas parenting seperti yang sedang marak kini, tapi ia tau cara mengapresiasi bocah yang ia kandung dan rawat sendiri itu.

Di hari biasa mamak tak pernah sempat ajak anak itu jalan-jalan apalagi ke tempat hiburan. Sederhananya, kebahagiaan seseorang ternyata terpahat sejak kecil. Dengan dibonceng naik sepeda oleh mamak aja bisa membuat anak ini bahagia.

Coba ingat lagi, hal apa yang membuatmu bahagia saat kecil?
Sekarang apa hal yang membuatmu bahagia? Apakah uang?

MANUSIA BERGANTUNG PADA MANUSIA

Tadinya ia berharap, bisa bergantung pada lelaki yang belum lama menikahinya. Bisa mengurus tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil, tanpa harus lelah mencari nafkah lagi. Namun Tuhan berkehendak lain.

Jangankan untuk mencari nafkah, suaminya bahkan tidak bisa beraktivitas secara mandiri. Buang air dan makan di dipan beralaskan kain jarik. Untuk makan pun membutuhkan bantuan darinya.

Ibu itu memboyong ketiga anak perempuannya dan seorang bayi laki-laki berusia enam bulan ke suatu rumah yang jauh dari perkampungan. Ada tabib terkenal disana, yang konon bisa menyembuhkan penyakit suaminya itu. Walau jauh dan sangat jauh ia tempuh sambil menggendong bayinya dan 3 anak perempuannya. 

Mungkin kala itu dia memaki Tuhannya. Bagaimana bisa kehidupannya selalu terasa terpuruk? Ia pernah merasakan hidup seperti perempuan normal pada umumnya. Menjadi istri yang sangat menghormati suaminya. Memiliki 2 anak perempuan yang mulai bisa diajarkan untuk membantu mengurus rumah tangga. Dan bayi perempuan lucu yang sedang butuh perhatian kedua orang tuanya. Angan-angannya sudah bisa hidup nyaman hingga tua nanti. Sampai saat suaminya meninggal ketika si bayi lucu baru berusia setahun. 

Terasa tersambar petir di siang bolong, ia putar haluan menjadi kepala keluarga sekaligus kepala rumah tangga. Ia mencari nafkah mengkarbit anak perempuannya untuk menjadi ibu di rumah untuk si bayi lucu.

Tak lama berselang datang lelaki yang ingin menikahi, meringankan beban hidupnya. Ia sempat terpikir "Tuhan masih baik padaku, mungkin ini jawaban dari semua doa-doaku". Benar harinya bahagia, ia sangat terbantu dalam kehidupannya. Dan masih tak percaya Tuhan kembali mengamanahkan ia seorang bayi laki-laki. Ketika bayi laki-laki itu mulai tumbuh, berangsur-angsur pula Tuhan kembali memberikan takdir diluar dugaannya. Suaminya mulai sakit-sakitan dan tak bisa lagi mencari nafkah untuk mereka. 

Tak heran dia punya emosi yang tidak stabil. Ia dikenal "si gampang marah" oleh semua tetangganya. Kemarahannya gampang sekali terpancing, bahkan terhadap hal-hal kecil. Tapi semua orang tau dia memiliki hati yang baik.

Si ibu yang mulia itu mengambil pelajaran, bahwa "Tak patut kau bergantung pada manusia". Ia terus menjalani hidupnya dengan mulia merawat semua anaknya tanpa bergantung pada manusia lain.