Matanya berbinar, antusias mengawas sekitar, kedua tangannya memeluk erat pinggang mamak. Kedua kakinya diikat dengan potongan kain "biar ga masuk jari jari" kata mamak. Anak laki-laki itu memakai kemeja kotak kotak. Mengenakan celana panjang cargo yang banyak kantongnya. Kakinya yg diikat kain itu menggunakan sepatu baru yang memang disiapkan untuk hari ini.
Wednesday, 14 October 2020
STANDAR BAHAGIA
MANUSIA BERGANTUNG PADA MANUSIA
Tadinya ia berharap, bisa bergantung pada lelaki yang belum lama menikahinya. Bisa mengurus tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil, tanpa harus lelah mencari nafkah lagi. Namun Tuhan berkehendak lain.
Jangankan untuk mencari nafkah, suaminya bahkan tidak bisa beraktivitas secara mandiri. Buang air dan makan di dipan beralaskan kain jarik. Untuk makan pun membutuhkan bantuan darinya.
Ibu itu memboyong ketiga anak perempuannya dan seorang bayi laki-laki berusia enam bulan ke suatu rumah yang jauh dari perkampungan. Ada tabib terkenal disana, yang konon bisa menyembuhkan penyakit suaminya itu. Walau jauh dan sangat jauh ia tempuh sambil menggendong bayinya dan 3 anak perempuannya.
Mungkin kala itu dia memaki Tuhannya. Bagaimana bisa kehidupannya selalu terasa terpuruk? Ia pernah merasakan hidup seperti perempuan normal pada umumnya. Menjadi istri yang sangat menghormati suaminya. Memiliki 2 anak perempuan yang mulai bisa diajarkan untuk membantu mengurus rumah tangga. Dan bayi perempuan lucu yang sedang butuh perhatian kedua orang tuanya. Angan-angannya sudah bisa hidup nyaman hingga tua nanti. Sampai saat suaminya meninggal ketika si bayi lucu baru berusia setahun.
Terasa tersambar petir di siang bolong, ia putar haluan menjadi kepala keluarga sekaligus kepala rumah tangga. Ia mencari nafkah mengkarbit anak perempuannya untuk menjadi ibu di rumah untuk si bayi lucu.
Tak lama berselang datang lelaki yang ingin menikahi, meringankan beban hidupnya. Ia sempat terpikir "Tuhan masih baik padaku, mungkin ini jawaban dari semua doa-doaku". Benar harinya bahagia, ia sangat terbantu dalam kehidupannya. Dan masih tak percaya Tuhan kembali mengamanahkan ia seorang bayi laki-laki. Ketika bayi laki-laki itu mulai tumbuh, berangsur-angsur pula Tuhan kembali memberikan takdir diluar dugaannya. Suaminya mulai sakit-sakitan dan tak bisa lagi mencari nafkah untuk mereka.
Tak heran dia punya emosi yang tidak stabil. Ia dikenal "si gampang marah" oleh semua tetangganya. Kemarahannya gampang sekali terpancing, bahkan terhadap hal-hal kecil. Tapi semua orang tau dia memiliki hati yang baik.
Si ibu yang mulia itu mengambil pelajaran, bahwa "Tak patut kau bergantung pada manusia". Ia terus menjalani hidupnya dengan mulia merawat semua anaknya tanpa bergantung pada manusia lain.