Monday, 29 January 2018

BERJUANG MELAWAN DIABETES MELITUS EPISODE 02 (RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KUMPULAN PANE)

EPISODE 02 (MENGOBATI SAKIT DIABETES DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KUMPULAN PANE TEBINGTINGGI)

Sampailah aku di RSUD Kumpulan Pane, langsung tanya-tanya dimana ruangan Dahlia 2. Sesampai di ruangan Dahlia 2 celingak-celinguk kok ga ada wajah mamakku yah? sampe seisi ruangan dahlia 2 ngeliatin aku dateng dan ada yang nanya "mau apa bang?" sepertinya wajahku mencurigakan yak, jadi mereka nanyanya ketus. Setelah aku telepon keponakanku bukan ruangan Dahlia 2, tapi seberang ruangan Dahlia 2. Nah kali ini baru bener. Aku lihat wajah mamakku yang menahan tangis, dan kondisi badannya kurus. Kurus banget malah.

Ini hari kedua ia dirawat, masih bisa dituntun ke toilet untuk buang air walaupun kaki kanannya dibungkus perban. Cerita awalnya lukanya cuma di ibu jari kaki karena tersandung besi sekitar rumah. Diobati ke puskesmas sudah mendingan, tapi kata keponakan yang mengantar mamak ke puskesmas, secara ga sengaja jari telunjuknya terkena gunting oleh pihak perawat puskesmas (belum valid juga infonya, ga boleh nyalahin ya). Akhirnya luka kali ini adalah sekitar 4 jari kaki kanan kecuali jempol. Aku baru tahu ternyata ruangan mamak dirawat adalah ruang dahlia 4 (wajar lah, karena ga semua ruangan ada tulisannya). Aku tau nama ruangan itu juga karena ada di data pasien mamak saat mau ambil obat ke bagian farmasi.

Hari Rabu ternyata ada masalah di pembayaran, kata kak Ita kartu BPJS atau KIS mamak bermasalah, pihak RS nanya "Bu, kartunya ini pernah dipinjamkan ke orang ya?" kak Ita langsung jawab "gak ah", pihak RS lanjut menjelaskan "tapi datanya pemilik kartu ini sudah meninggal bu, coba tanya aja ke BPJS nya bu di depan ramayana itu".

Nah jadilah aku disuruh untuk mengecek keanggotaan KIS mamak di kantor BPJS Kesehatan Kota Tebingtinggi yang ada di depan Ramayana. Untunglah ada Dani yang kebetulan menjenguk. Dani, Putri dan Johan itu sahabat aku dari jaman Aliyah. Kebayang kami sahabatan udah sekitar 15 tahun. Gimana aku ga sayang sama mereka, saat aku dalam kesusahan atau duka gimanapun mereka selalu ada. Untuk menjenguk mamakku di rumah sakit aja mereka bisa sampai sehari dua kali, udah kayak minum obat kata kakakku.

Sampailah kami di kantor BPJS Kesehatan. Setelah antre dan ketemu CS nya, aku tanya lah keanggotaan KIS mamakku, dari data ternyata ada kesalahan NIK yang ga sesuai antara di Kartu KIS dan KTP, penjelasan Custumer Service yang namanya mbak WR adalah kartu ini sudah dinonaktifkan oleh pihak kementerian dan pihak kementerian jugalah yang berhak untuk mengaktifkan kembali, tapi kemungkinannya sedikit sekali. Mbak WR pun menyarankan untuk pembuatan kartu keanggotaan baru, tapi hanya bisa aktif dalam waktu 14 hari, jadi sekitar 1 Februari 2018 baru bisa diaktifkan dan digunakan. Solusi pembayaran lainnya adalah pengurusan "Dana Talangan". Dana Talangan ini adalah bantuan dari pemerintah kota Tebingtinggi hanya diperuntukkan kepada warga Tebingtinggi yang kartu BPJS nya hilang atau bermasalah dan yang aku dengar sih hanya berlaku untuk pasien di RSUD Kumpulan Pane ini (kalau salah mohon dikoreksi). Oke aku turuti, aku buatlah keanggotaan baru, entah bakal kami butuhkan ataupun engga, ya aku berharap kartu itu tidak pernah kami butuhkan.

Mulailah aku urus Dana Talangan yang sampai saat aku nulis inipun aku masih belum tahu Dana Talangan ini melalui Dinas Kesehatan ataukah Dinas Sosial, atau malah kolaborasi antara keduanya. Aku juga kan ga terlalu paham tentang manajemen kota ini. Pengurusan dana talangan dimulai dari kelurahan, katanya pihak kelurahan sudah tau mengenai pengurusan dana talangan ini, setelah di tanda tangani oleh lurah baru kemudian bisa dinaikkan ke kecamatan. Pihak kelurahan bilang fotocopy rangkap lima surat tersebut, dan kartu keluarga, masukkan ke map kuning. Tapi akhirnya map kuning dan fotocopyan itu ga digunakan (atau mungkin kebetulan karena lagi sepi kali ya).

Setelah di tanda tangani oleh camat, pihak kecamatan dengan ragu menyuruh aku untuk bertanya dulu ke dinas sosial. Sesampai di Dinas Sosial ternyata ada kesalahan, surat harusnya ditujukan kepada Dinas Sosial bukan ditujukan kepada pihak RSUD Kumpulan Pane, tapi yang sudah dibuat pihak kelurahan ditujukan kepada RSUD Kumpulan Pane. Jadi mbak-mbak resepsionis di Dinas Sosial minta aku untuk memperbaiki suratnya sekaligus membawa persyaratan lain berupa 2 lembar materai Rp.6.000,-, 2 lembar FC KTP mamak, dan 2 lembar FC KTP aku sebagai anaknya. Mungkin maksudnya bakalan buat surat kuasa kali ya, makanya pakai materai gitu. Dan akhirnya ga jadi aku urus ke Dinas Sosial, tapi surat yang dari camat itu aku serahkan saja ke pihak pembayaran di RS. Dan sampai akhir mamak dirawat kepengurusan Dana Talangan sudah sekian dan terima kasih (tidak pernah dipermasalahkan lagi).
Hari demi hari semakin kita kehilangan tujuan membawa mamak dirawat di RS ini, kondisi mamak malah sedikit memburuk. Mamak akhirnya pakai popok dewasa karena akhirnya jangankan untuk ke toilet, duduk aja susah. Dan lukanya bertambah sampai ke mata kaki padahal tadinya cuma di sekitar empat jari kaki kanan. Entah luka ini bertambah seiring dengan tingkat stress mamak yang bertambah, atau bertambah karena penanganan mencuci lukanya yang salah atau apapun aku juga ga terlalu paham ya, intinya memang ga boleh nyalahin siapa-siapa.

Hari Rabu itu Bang Don cerita ke kami bahwa dia ketemu dengan dokter di UGD yang ceritanya bapaknya dia (dr tersebut) terkena diabetes juga dan ga sembuh di RS tapi sembuh dengan obat cina yang harganya mahal, sampai sekitar 4 juta. Di rumah ceritalah Bang Don tentang kejadian itu, dan kita berunding untuk memutuskan pengobatan tersebut karena harganya yang mahal. Keputusan mash ngambang dan belum jelas.

Kebetulan dr bedah hari kamis masuk ke ruangan mamak dan hanya ada kak Ita yang jaga mamak, karena aku masih ngurusin Dana Talangan kala itu. Dr bedah ini terkenal ketus dan to the point, inti dari obrolannya adalah kaki mamak harus diamputasi sampai ke mata kaki. Shock lah kita semua dan kita ga akan tega ngebiarin mamak yang biasanya aktif begitu, buntung kakinya dan jalan pakai tongkat. Kita diskusikan dan kita usahakan segala cara agar kaki mamak ga jadi diamputasi. Kita sepakat coba obat cina yang disarankan Bang Don dari dr UGD.

Bang Don akhirnya hubungi nomor dr tersebut, dari obrolan Bang Don bilang bahwa nanti dr UGD tersebut akan gantikan posisi dokter nya mamak dan dia akan stop obat dari RS dan supply obat cina tersebut. Ini seperti angin segar untuk kita yang sama-sama depresi. Bang Don infokan nanti setelah sholat jumat dokternya akan kesini. Setelah solat jumat Bang Don telfon aku untuk ketemu dengan dokter di kantin. Apa? Di Kantin? iya di kantin. Oke siap, aku turuti.

Sesampainya di kantin berkenalan lah aku dengan 3 dokter, 2 laki-laki dan 1 orang perempuan. Dan dari situ barulah aku tahu ternyata mereka bukanlah dokter melainkan petugas RS ini, orang medis lebih tepatnya salah satunya kak Rina petugas bagian radiologi RSUD Kumpulan Pane ini. Dan mereka bukan memberi obat cina, melainkan mereka berjualan produk MLM yang namanya "MCI bioglass dan biopendant". Seketika angin segar itu agak agak ga segar lagi aku rasa, tapi tetap aku cobain. Tapi bukan dari mereka aku ikut MLM yang harganya hampir 4 jutaan, aku cari jalan tengah dengan meminjam bioglass, biopendant dan magic stick dari teman aku yang baik hati namanya Desi. Kalian boleh cari cara menyembuhkan gula atau penyakit diabetes dengan bioglass, atau dengan bio pendant aura.

Aku pinjam untuk jangka waktu seminggu, biopendant nya langsung aku kalungkan ke leher mamak. Bioglass yang bentuknya seperti piring kaca kecil kadang aku sinari perut dan kaki mamak. Air bening juga aku suling sampai 7 kali penyulingan untuk diminum mamak dengan menggunakan Bioglass yang sama, jelas aku cuci dululah, kebayang aja ga dicuci dulu itu bekas nempel diperut mamak yang berkeringat, bahkan kaki mamak yang punten walaupun diperban tapi aromanya kan nembus bray. Kebetulan mamakku minumnya harus dengan air hangat, jadi air hasil penyulingan bioglass itu cuma sebagai campuran. Percaya ga percaya kita mulai sedikit bisa tersenyum karena mamak terlihat mulai segar, duduk sudah tidak begitu lemas. Entah ya karena efek obat, atau efek bioglass, atau efek sugesti, hehe.

Tapi luka mamak kok belum juga membaik ya, malah semakin buruk seperti yang udah aku jelasin diatas, tadinya cuma dijari sekarang sampai ke mata kaki. Ga usah di fotoin ya, dibayangin ajalah namanya luka diabetes pasti begitulah. Nanti kalian jadi ga selera makan seminggu gara-gara aku upload foto lukanya.

Satu hal yang paling kita merasa "untung mamak dibawa ke RS" adalah ada perawat yang cuci luka mamak setiap jam 9 pagi. Perawat menyuci luka mamak dengan menggunakan air infus (NaCl), dan juga pakai sabun bayi cair. Perawat yang ngebersihin luka mamak biasanya pakai masker, glove, dan berdua. Terkadang tim perawat tersebut ada yang bawa mangkok sendiri, kadang ga bawa mangkok tapi bawa keresek besar, kadang juga sama sekali ga bawa keresek atau mangkok. Tim perawat ada yang meminta pembalut untuk menutup luka mamak dengan penjelasan agar nanahnya terserap dan ga tembus baunya keluar. Ada juga tim perawat yang marah ke kami "lain kali jangan pake pembalut bang, ini lukanya makin parah nanti, makin lembab dia" (lah lalu kita mau percaya siapa?). Petugas yang cuci luka mamak terus ganti. Satu Petugas dengan baiknya menyarankan menggunakan Nebacetin, eh malah petugas lain bilang "Nebacetin itu untuk pemulihan bang, bukan untuk pengobatan". Bukan tidak konsisten, atau gimana, mungkin saja memang sesekali perlu pakai pembalut, terkadang tidak, atau terkadang butuh mangkok, kadang tidak. Kan kita juga ga diposisi mereka, jadi kita ga bisa paham sudut pandangnya mereka.

Kita putus asa dengan mengobati mamak di RS ini, belum lagi riwayat kata pasien disini ada yang sembuh lukanya dengan waktu 1,5 bulan dan kebanyakan malah ga sembuh. Segala omongan orang kami dengerin dengan seksama sambil kami memikirkan alternatif mana yang akan kami pilih.Ada yang menyarankan menggunakan propolis, ada yang menyarankan dengan minum teh daun karsen, ada yang menyarankan dibalur dengan daun binahong, ada yang menyarankan makan putih telur tanpa memakan kuning telurnya, ada yang menyarankan dengan rumput cina, segala kami dengerin dan ada beberapa yang lewat begitu saja tanpa kami fikirkan.

Hari Jumat ini adalah kondisi terburuk mamak, ga ada makanan dan minuman yang masuk ke perut mamak sama sekali, semuanya termuntahkan. Mamak hanya boleh makan karbo yang dikasi oleh pihak RS. Padahal siang kadang pihak RS juga memberi makanan yang ada ikannya, ada buahnya, sementara mamak ga dibolehin makan buah, ga dibolehin makan ikan. Hari jumat ini mamak gabisa duduk sama sekali. Dan ada kejadian yang membuat aku kesel banget sama perawat (yang entah mereka hanya siswa SMK yang lagi magang dan dibiarkan langsung terjun, tapi aku juga ga terlalu ngerti ya salah siapa). Begini ceritanya, mamak harus foto (kata mereka) belum ada penjelasan mau foto apa, pas foto, foto x-ray seluruh tubuh, atau foto keluarga. Mereka menyediakan kursi roda seadanya yang rodanya sudah terlihat renta, berjalan meliuk-liuk. Dengan susah payah aku gendong mamak, untuk duduk di kursi roda, bukan karena beratnya, tapi mungkin karena bisep tangan ini tak pernah terpakai. Duduk di kursi roda kepalanya lemas banget, dan selalu huak huek muntah-muntah. Sekilar terpikir kenapa ga bed nya mamak aja ya yang disorong? ya gatau juga lah ya, aku hanya bisa menerka-nerka. Didoronglah kursi roda dengan pelan-pelan, saat akan melewati turunan 2 perawat perempuan bersusah payah, malah 1 perawat laki-laki yang dipanggil 'gus' itu sedang bercanda dengan lelaki berbaju hitam. Memang mungkin itu cara mereka untuk membuat pekerjaan mereka tidak menegangkan, dibumbui dengan candaan, masalahnya mereka sedang bawa mamakku, gimana kalau yang lagi menahan kursi roda agar ga tergelincir terganggu candaan mereka? kan kesel. Ditambah lagi emang pelayanan staf di RS ini kurang senyuman (ini mungkin juga efek dari aku udah mulai terbiasa dengan pelayanan di jawa barat kali ya)

Ngomong-ngomong tentang keselnya aku terhadap siswa-siswi SMK yang sedang magang ini, ada salah satu perawat laki-laki tapi memang gayanya seperti perempuan, orangnya berisik banget kalau ngobrol. Sebut saja dia perawat X. Selama di RS kan mamak susah banget untuk tidur, terutama tidur malam. Pelan-pelan dengan hati-hati kita jaga langkah, agar ga berisik karena kita lihat mamak mulai kriyep-kriyep (sayup-sayup ngantuk = bahasa jawa medan). Dengan tiba-tiba itu si perawat X sedang nyanyi keras-keras di basecamp nya.  Ya kebetulan karena malam sudah larut jadi ya suara air netes aja kedengeran jelas, terganggulah mamak yang sedang tidur.

Masih lanjut mengungkapkan kekesalan, suatu pagi infusan mamak diganti airnya, bukan air NaCl tapi diganti menjadi metronidazole. Metro ini wadahnya botol berbahan kaca, jadi butuh gantungan botol khusus. Perawat perempuan yang sepertinya juga siswi magang sedang berusaha memasang metro di atas infusan, eh merosot, dipasang lagi merosot lagi, sampai empat kali, aku diemin aja, bukan karena ga mau membantu, tapi takut perawatnya tersinggung, soalnya beliau ga ada senyumnya, lagi serius pisan. Eh keluarga pasien sebelah malah dateng dan ngejelasin, "yang ini dimasukin kesini sus" sambil menunjuk bagian gantungan botol yang kecil lubangnya. We O we ga tuh, keluarga pasien lebih mahir memasang botol metronya.

Masih ngomongin metronidazole yang di botol kaca kecil tadi. Pasien sebelah namanya Bu Parwati sedang dipasang metro di infusannya. Nah, ga lama kemudian infusannya berhenti, jadi darah pasien naiklah sedikit ke selang, datanglah perawat X dengan cerianya ke ruang dahlia 4. Lalu wajah perawat X berubah seketika menjadi kaget plus marah. "ini siapa yang masang kayak gini ini pak?" tanya perawat X ke suami Bu Parwati. "Perawat yang tinggi-tinggi gitu tadi". "Siapa? Via? Panggil Via kesini" titah sang perawat X kepada teman disebelahnya. Tak lama kemudian datanglah perawat yang tingginya sekitar 165cm "Apa?" tanya Via dengan wajah ketakutan. "Ini kau yang masang? mana suntikannya ini?" labrak perawat X sambil menunjuk botol metro yang tidak ditusuk ujung alat suntik di bagian tutup botolnya. "Bukan aku, aku masang ibu ini, ya kan bu?" Via membela diri sambil melihat mamak menanti pembelaan. Nah aku disitu hanya tepelongo (bengong = bahasa medan), heran saja, belum pernah aku ngeliat kejadian seperti barusan, menyalahkan rekan perawat di depan para pasien dan keluarganya.

Nah cerita punya cerita ada angin segar lain, Pak Arif tetangga kami yang jarang keluar rumah pernah terlihat kakinya diperban dan ga bisa jalan, dan sekarang udah bisa jalan normal seperti biasa. Sore sepulang dari rumah sakit, aku dan Kak Ijur ke rumah Pak Arif untuk berbagi cerita tentang pengalamannya melawan penyakit diabetes, atau kita sebutlah melawan luka diabetes yang pernah diderita Pak Arif tersebut. Bahasanya aku perbaiki, mungkin diabetes Pak Arif juga belum sembuh, tapi lukanya sudah sembuh kering sempurna, seperti sedia kala. Ya sebenarnya yang mengerikan dari diabetes itu ya saat mulai luka seperti mamak sekarang.

Berceritalah Pak Arif bahwa ia bisa sembuh karena berani mencoba berobat di salah satu tempat praktek dokter swasta yang tidak bekerja sama dengan BPJS sama sekali. Sekilas penjelasan Pak Arif siapapun yang berobat kesana pasti sembuh (yang ia lihat mungkin), karena teman Pak Arif juga menderita penyakit yang sama dan sembuh di dokter tersebut. Jelas ga ada yang pasti 100%. Cerita panjang lebar lagi Pak Arif bahwa metode pencucian luka diabetes yang dilakukan di rumah sakit dengan menggunakan air infus itu salah, logikanya luka basah mbenyenyek (bersifat basah dan becek seperti tanah liat yang terkena hujan = bahasa jawa tebing) ditambah basah ya semakin mbenyenyek lah dianya. Cerita selanjutnya dari Pak Arif bahwa dulunya bapak si dokter ini adalah mantri yang sering mengobati luka diabetes, dulu dokter ini masih SMP saat ia sering membantu bapaknya mengobati diabetes, kasarnya dia sudah membantu mengorek-ngorek luka yang sudah busuk sedari SMP. Sampai akhirnya mungkin menjadi cita-cita mendarah daging si dokter itu untuk mengobati berbagai luka diabetes. Singkat cerita (padahal ceritanya udah ga singkat ya) kami minta alamat pengobatannya pak dokter itu. Nomor HP yang tersimpan di Pak Arif juga nomor Pak cik nya si dokter, bukan nomor dokter itu sendiri. Intinya alamatnya adalah dari pekan sei buluh, belok ke kanan, menuju ke arah Pantai Kelang, menyeberangi rel kereta melewati perkebunan sawit, sampai perkampungan, tanya saja ke orang-orang sekitar, masyarakat sudah tau dokter yang famous dapat mengobati diabetes. Hanya sayangnya kita harus bersedia kantong bocor (kata Pak Arif), konon Pak Arif beberapa Tahun lalu saja menghabiskan sekitar 8 jutaan sampai lukanya benar-benar sembuh. Kita sudah berfikir sebesar apapun kita usahakan asalkan mamak ga diamputasi kakinya sampai ke mata kaki. Secara general kita ga mau ngeliat mamak jalan menggunakan tongkat atau bahkan kursi roda.

Sampailah pada saat kita fix memutuskan mamak keluar dari rumah sakit, dan berobat ke tempat dokter rekomendari Pak Arif (kita singkat aja ya dengan dr RPA), seberapa besar pun biayanya. Kita sepakat di rumah sakit pun aku sudah berusaha untuk mengeluarkan mamak. Nah, biasanya kan ribet tuh ya mengeluarkan pasien yang belum sembuh dari rumah sakit. Ya wajar dong, itu kan jadi tanggung-jawab dokternya. Tapi ya daripada luka mamak yang tadinya hanya sekitaran jari sekarang sudah merambah ke mata kaki bertambah lagi, dan kondisi mamak yang tadinya masih kuat untuk duduk-duduk sekarang ga bisa apa-apa ya kita upayakan yang terbaik buat mamak lah ya. Dokter pagi itu datang sekitar jam 10 pagi. Gatau kenapa di rumah sakit ini, setiap dokter senior masuk akan diikuti dokter-dokter muda dan juga perawat yang jumlahnya bisa sampai 8-10 orang, tadinya aku juga heran, apa ya mau ada wiridan, apa gimana ya kok mamakku didatangi orang banyak. Dokter ngecek sedikit kondisi mamak dengan stetoskop dan tanya tanya "masih mual nek?" "masih pusing?" dan ditengah-tengah pertanyaan itu aku lantang saja "rawat jalan aja dok!", dokter yang terlihat bijaksana dan sudah lumayan berusia itu menoleh dan menjawab "rawat jalan?", sekilas ia melihat dengan ramah lalu bertanya kepada dokter muda yang mengelilinginya "suhu berapa? suhu normal berapa? Hb nya gimana? ini leukosit masih tinggi mau dikeluarkan?" dokter muda disekitarnya menunduk terdiam seakan baru mendengar nasehat yang sangat berharga. Dokter senior itu kembali menoleh ke arahku dan "ini butuh transfusi darah, kau anak ibu ini? mendingan transfusi dari anaknya sendiri aja, akan lebih cocok". aku pun manggut-manggut aja.

Ada satu dokter muda yang selalu ngecek kondisi mamak setiap pagi, tinggi badannya lebih rendah dari aku, dan lebih gempal sedikit perawakan badannya dari aku, dan yang aku ingat saat mengecek kondisi mamak dia hampir selalu dalam kondisi ingusan, namanya dr Hasfi. Dr Hasfi ini ramah banget, cuma dia satu-satunya dr muda yang ramah, kenapa aku menceritakan tentang dr Hasfi ya karena akhirnya komunikasi aku ke pihak dokter hanya melalui dia. Selang beberapa menit setelah dokter senior berkunjung, aku tanya-tanya ke Hasfi, gimana supaya mamak bisa keluar secepatnya, "bentar ya kita urus transfusinya dulu", jawabnya. Cerita punya cerita kita uruslah transfusi darah, bener saja kondisi mamak emang lemes banget (aku sadar ini karena jumlah sel darah merahnya sedikit).
Mengenai transfusi darah mulailah aku mondar-mandir mengurus dokumen transfusi, di cek golongan darah mamak, ternyata B jelas jauh beda dari aku. Ya perawat menjelaskan "cari dulu pendonornya dari keluarga ya bang, kalau bisa anaknya, tar kalau memang udah ada kabarin aja ke kami." Aku kembali ke ruangan atas dahlia 4, menjemput Kak Ita yang berat badannya sekitar 100 kg untuk cek golongan darah, yang kemudian akan didonor ke mamak.

Mitos yang aku dengar ya golongan darah B itu biasanya sedikit berantakan dan cara berfikirnya rada beda dengan orang-orang pada umumnya. Kak Ita kayaknya pas. Benar setelah di cek golongan darah Kak Ita bener B, dan dari semua anak mamak cuma dia yang golongan darahnya B, entah kalau Kak Ani ya, kebetulan Kak Ani baru lahiran dan ga mungkin banget untuk donor darah. Kak Ita menjerit karena tertusuk jarum saat pengecekan golongan darah. Dari kejadian itu pihak perawat ga ngijinin Kak Ita untuk donor, mereka menyarankan cari pendonor lain karena kalau takut disuntik malah ditakutkan gagal transfusinya, dari pada berlama-lama kita sepakat untuk dibantu mencarikan donor ke pihak rumah sakit. Biaya yang dikenakan Rp. 230.000,-/ kantong darah, mungkin karena kita mendapatkan Dana Talangan yang statusnya hampir sama dengan BPJS jadi lebih murah. Plus biaya cek darah Kak Ita Rp.15.000,- (karena Kak Ita ga jadi donor, jadi tes golongan darahnya berbayar). Setelah mamak menjalani transfusi darah, memang mamak kelihatan ga terlalu pucat dan sepertinya mamak sudah bisa kita ajak kabur dari rumah sakit ini.

Pagi ini, sehari setelah transfusi darah Hasfi kembali mengecek kondisi mamak, tapi hanya suhu yang sudah dapat dipastikan normal, Hb dan leukosit? sampai akhir kita keluar kita ga tau hasilnya, sudah di cek sebenarnya, tapi memang kami aja yang ga sabar menunggu hasilnya keluar. "Usahakan hari ini mamak bisa keluar ya dok?" kataku, "kita usahakan ya" jawabnya sambil senyum. Kak Ijur datang ke rumah sakit dengan harapan sudah bisa kasi kabar ke Bang Don bahwa mamak siap dibawa ke dokter RPA sekarang. Aku minta sama kak ijur untuk ngomong ke pihak rumah sakit karena "aku ga pande betekak (berdebat dengan nada dan intonasi tinggi = bahasa medan) kalo salah loh". Kak Ijur akhirnya menurut dan menjumpai staf admin RSUD Kumpulan Pane ini yang kebetulan tetangga se kecamatan kami. "Iya, awak bantu telpon dari sini ya kak" katanya, dan yap spontan mamak diperbolehkan pulang  oleh pihak perawat, tapi ya ilegal. Aku urus administrasi berobat jalan dan lain-lain, dan kebetulan itu sekitar jam 10, sampai perawat bertanya kembali "gamau nanya dulu ke dokternya?" spontan dong aku jawab "gausah".
Akhirnya kita pulang, mamak keliatan seneng banget. itu sekitar jam setengah 11.

bersambung . . . 

Sunday, 28 January 2018

BERJUANG MELAWAN DIABETES MELITUS EPISODE 01 (PERJALANAN DARI PURWAKARTA MENUJU TEBINGTINGGI)

EPISODE 01 (PERJALANAN DARI PURWAKARTA MENUJU TEBINGTINGGI)

Maaf sebelumnya ya der, aku menjadikan blog ini sebagai ajang untuk tempat curhatan, seakan-akan ini adalah diary.

Sebagai pembukaan cerita aku hari ini, aku menjelaskan dulu bahwa mamakku penderita diabetes melitus, dan bahasa di masyarakat Tebingtinggi disebut sebut sebagai gula basah. Usia mamak sekarang 61 tahun, dia ketahuan menderita diabetes semenjak tahun 2013. Kala itu mamak masih aktif blusukan ke kebun sawit, dan kakinya terkena duri sawit, jadilah lukanya melebar, tapi sembuh dengan ramuan rempah ratus yang dibeli di pajak (bahasa Indonesianya pasar). 

Sembuh kemudian kambuh lagi, sampai saat ini lukanya parah banget di kaki sebelah kanan.

Sebelumnya mamak selalu menolak untuk dibawa ke RS, jangankan untuk dibawa ke rumah sakit, bahkan dirawat bidan kampung pun ia ga mau. Misalkan kakak memanggil bidan ke rumah cuma untuk mengecek kadar gula darah, kolesterol dan lain-lain mamak akan marah sama kakak yang manggil bidan tersebut. Aku dikabari oleh kakak-kakakku bahwa hari ini, Selasa 16 Januari 2018 mamak akhirnya mau dirawat di Rumah Sakit, setelah kakak-kakakku berjuang untuk membujuknya agar mau dirawat di RS. 

Selasa malam, dimana aku yang masih enjoy enjoy nonton x-men di mess 10 kesayanganku, aku dikabari melalui telepon oleh kak Ijur bahwa mamak sudah dirawat dari sore tadi sekitar jam 5, dan keponakanku ngajakin video call walau dengan signal jaringan yang putus-putus aku bisa ngeliat jelas wajah mamakku seperti yang memelas, bahkan mamak meneteskan air mata. Hati siapa yang tidak teriris melihat ibunya meneteskan air mata (lebay banget sih yak). Dan sesaat aku uring-uringan menelepon pihak Yayasan tempat aku bekerja yang baik hati untuk meminta ijin, sangat disayangkan Bu MT dari Yayasan sedang rapat dan belum bisa diganggu, ya langsung saja aku chat via whatsapp pokoknya inti dari chat adalah aku meminta ijin untuk pasif dulu mengurusi segala urusan sekolah dan fokus untuk mengurusi mamakku di Medan (padahal Tebingtinggi, tapi kalau di jawa barat aku selalu menyebut aku berasal dari Medan, efek mereka juga taunya sumatera utara ya identik dengan Medan). Dengan bijaksana pihak Yayasan mengijinkan, bahkan mendukung sekali (merasa beruntung banget ga sih kalian kerja di Yayasan yang menganggap kalian benar-benar manusia dengan berbagai pertimbangan manusiawi dan menganggap kalian seperti keluarga). 

Di saat yang sama aku mencari harga tiket termurah pastinya via tiket.com, aplikasi traveloka, aplikasi wego, pegi-pegi.com, airasia.com, lion, dan lain-lain, akhirnya ketemulah tiket termurah di aplikasi smartphone tiket.com. Harga tiket termurah Jakarta (bandara soekarno hatta) ke Medan (bandara kuala namu) waktu itu adalah sekitar enam ratus ribu rupiah. Eh tunggu dulu, mau pesan tiket jam berapa ya aku pikir, nah mulailah pemikiran strategis ini harus dimainkan, estimasikan dulu mau naik apa aku ke bandara cengkareng sana, berapa kendaraan yang aku gunakan, berapa lama estimasi perjalanan ke bandara, dan lain lain. 

Mulailah jari jemari aku yang ga seberapa ini mencari angkutan langsung dari Purwakarta ke Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng sono. Ketik dulu lah di google "bis murah purwakarta ke bandara soekarno hatta Jakarta". Dan nemulah ada angkutan Damri dari Purwakarta ke Cengkareng, letak terminalnya di jalan veteran, pasatinya itu di pusat kota Purwakarta, dan sebagai info harga tiketnya Rp.65.000,- ke terminal manapun di bandara soekarno hatta. Dan keberangkatan bus tersebut ada setiap jam nya dari mulai pukul 01.00 sampai keberangkatan malam pukul 19.00 kalau aku ga salah. 
Karena ada keberangkatan pukul 01.00 dini hari maka mulailah aku fix ambil tiket keberangkatan tercepat yang ada, dapatlah tiket di pukul 06.00 yang kebetulan saat itu lion (hampir selalu ya kalau tiket murah itu pasti dari lion).

Aku mulailah perjalanan ini dengan mengendarai motor dari mess 10 yang ada di sekitar Campaka berangkat mulai pukul 23.00 dan sampai di jalan Veteran (tepatnya loket damri) sekitar pukul 12 malam. Motornya kemana? motornya dititipin di loket damri tersebut, yang kebetulan juga menyediakan tempat parkir yang harga penitipan perharinya saat ini adalah Rp.5.000,-. Menunggu sebentar tanpa harus adanya antrean tiket atau pembelian tiket terlebih dahulu, aku langsung berangkat dengan mengendarai Damri, jelas bukan sebagai supirnya, tapi penumpangnya. Sampai Bandara Soekarno Hatta sekitar Pukul 03.30 WIB. Dari Bandara Soekarno Hatta langsung check in dan cetak boarding pass, menunggu sajalah di Bandara. Sampailah saatnya penerbangan, kali ini lion terbang tepat waktu 06.00 langsung terbang dan 08.00 sampai di bandara Kuala Namu.

Sampailah diatas pesawat, siap meluncur dengan hati was-was. Penerbangan kali ini membuat aku deg-deg an, bukan hanya karena perasaan aku lagi ga enak karena mamak sakit disana dan pingin segera ketemu, tapi juga turbulensi kali ini sangat sering, hampir sepanjang perjalanan berasa guncangannya, sampai-sampai aku gabisa tidur didalam pesawat, padahal biasanya dalam pesawat aku tidur sepanjang perjalanan, kecuali saat naik pesawat malindo dari Kuala Lumpur ke Bandung.

Sampai di Bandara Kuala Namu enaknya karena aku ga pakai bagasi, jadi ga perlu antre bagasi. Langsung sajalah aku mengunjungi Paradep Taxi untuk ke Tebingtinggi. Harga tiket paradep dari bandara kuala namu ke Tebingtinggi maupun Siantar adalah Rp.55.000,-. Kenapa aku memilih untuk memilih Paradep, ya karena reputasinya baik dengan harga tiket yang udah jelas ga naik turun. Bis Paradep yang aku naiki kali ini ada 11 bangku penumpang. Kerennya di setiap bangku penumpang ada colokan untuk mengecas, idaman banget ga tuh? Sayangnya saat ada penumpang yang tanya "bang ini gabisa ngecas" dan dijawab oleh supirnya "rusak udah kak, nanti aja ya ngecas di rumah makan" kata supirnya. Beberapa kali aku naik kendaraan dari Bandara ke Tebingtinggi mau itu Paradep atau yang lain, mau jam berapapun keberangkatannya, bis pasti berhenti untuk makan. 

Dan akhirnya rute terdekat menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kumpulan Pane, aku harus turun di simpang empat Tebingtinggi (sebenarnya lebih dekat turun di simpang neraka, tapi saat itu supirnya ga tau dan ga mau ribet, jadi yaudah sekalian olahraga lah jalan), dari simpang empat itu kita bisa berjalan kaki menuju ke RSUD Kumpulan pane.

bersambung . . . .