EPISODE 01 (PERJALANAN DARI PURWAKARTA MENUJU TEBINGTINGGI)
Maaf sebelumnya ya der, aku menjadikan blog ini sebagai ajang untuk tempat curhatan, seakan-akan ini adalah diary.
Maaf sebelumnya ya der, aku menjadikan blog ini sebagai ajang untuk tempat curhatan, seakan-akan ini adalah diary.
Sebagai pembukaan cerita aku hari ini, aku menjelaskan dulu bahwa mamakku penderita diabetes melitus, dan bahasa di masyarakat Tebingtinggi disebut sebut sebagai gula basah. Usia mamak sekarang 61 tahun, dia ketahuan menderita diabetes semenjak tahun 2013. Kala itu mamak masih aktif blusukan ke kebun sawit, dan kakinya terkena duri sawit, jadilah lukanya melebar, tapi sembuh dengan ramuan rempah ratus yang dibeli di pajak (bahasa Indonesianya pasar).
Sembuh kemudian kambuh lagi, sampai saat ini lukanya parah banget di kaki sebelah kanan.
Sebelumnya mamak selalu menolak untuk dibawa ke RS, jangankan untuk dibawa ke rumah sakit, bahkan dirawat bidan kampung pun ia ga mau. Misalkan kakak memanggil bidan ke rumah cuma untuk mengecek kadar gula darah, kolesterol dan lain-lain mamak akan marah sama kakak yang manggil bidan tersebut. Aku dikabari oleh kakak-kakakku bahwa hari ini, Selasa 16 Januari 2018 mamak akhirnya mau dirawat di Rumah Sakit, setelah kakak-kakakku berjuang untuk membujuknya agar mau dirawat di RS.
Selasa malam, dimana aku yang masih enjoy enjoy nonton x-men di mess 10 kesayanganku, aku dikabari melalui telepon oleh kak Ijur bahwa mamak sudah dirawat dari sore tadi sekitar jam 5, dan keponakanku ngajakin video call walau dengan signal jaringan yang putus-putus aku bisa ngeliat jelas wajah mamakku seperti yang memelas, bahkan mamak meneteskan air mata. Hati siapa yang tidak teriris melihat ibunya meneteskan air mata (lebay banget sih yak). Dan sesaat aku uring-uringan menelepon pihak Yayasan tempat aku bekerja yang baik hati untuk meminta ijin, sangat disayangkan Bu MT dari Yayasan sedang rapat dan belum bisa diganggu, ya langsung saja aku chat via whatsapp pokoknya inti dari chat adalah aku meminta ijin untuk pasif dulu mengurusi segala urusan sekolah dan fokus untuk mengurusi mamakku di Medan (padahal Tebingtinggi, tapi kalau di jawa barat aku selalu menyebut aku berasal dari Medan, efek mereka juga taunya sumatera utara ya identik dengan Medan). Dengan bijaksana pihak Yayasan mengijinkan, bahkan mendukung sekali (merasa beruntung banget ga sih kalian kerja di Yayasan yang menganggap kalian benar-benar manusia dengan berbagai pertimbangan manusiawi dan menganggap kalian seperti keluarga).
Di saat yang sama aku mencari harga tiket termurah pastinya via tiket.com, aplikasi traveloka, aplikasi wego, pegi-pegi.com, airasia.com, lion, dan lain-lain, akhirnya ketemulah tiket termurah di aplikasi smartphone tiket.com. Harga tiket termurah Jakarta (bandara soekarno hatta) ke Medan (bandara kuala namu) waktu itu adalah sekitar enam ratus ribu rupiah. Eh tunggu dulu, mau pesan tiket jam berapa ya aku pikir, nah mulailah pemikiran strategis ini harus dimainkan, estimasikan dulu mau naik apa aku ke bandara cengkareng sana, berapa kendaraan yang aku gunakan, berapa lama estimasi perjalanan ke bandara, dan lain lain.
Mulailah jari jemari aku yang ga seberapa ini mencari angkutan langsung dari Purwakarta ke Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng sono. Ketik dulu lah di google "bis murah purwakarta ke bandara soekarno hatta Jakarta". Dan nemulah ada angkutan Damri dari Purwakarta ke Cengkareng, letak terminalnya di jalan veteran, pasatinya itu di pusat kota Purwakarta, dan sebagai info harga tiketnya Rp.65.000,- ke terminal manapun di bandara soekarno hatta. Dan keberangkatan bus tersebut ada setiap jam nya dari mulai pukul 01.00 sampai keberangkatan malam pukul 19.00 kalau aku ga salah.
Karena ada keberangkatan pukul 01.00 dini hari maka mulailah aku fix ambil tiket keberangkatan tercepat yang ada, dapatlah tiket di pukul 06.00 yang kebetulan saat itu lion (hampir selalu ya kalau tiket murah itu pasti dari lion).
Aku mulailah perjalanan ini dengan mengendarai motor dari mess 10 yang ada di sekitar Campaka berangkat mulai pukul 23.00 dan sampai di jalan Veteran (tepatnya loket damri) sekitar pukul 12 malam. Motornya kemana? motornya dititipin di loket damri tersebut, yang kebetulan juga menyediakan tempat parkir yang harga penitipan perharinya saat ini adalah Rp.5.000,-. Menunggu sebentar tanpa harus adanya antrean tiket atau pembelian tiket terlebih dahulu, aku langsung berangkat dengan mengendarai Damri, jelas bukan sebagai supirnya, tapi penumpangnya. Sampai Bandara Soekarno Hatta sekitar Pukul 03.30 WIB. Dari Bandara Soekarno Hatta langsung check in dan cetak boarding pass, menunggu sajalah di Bandara. Sampailah saatnya penerbangan, kali ini lion terbang tepat waktu 06.00 langsung terbang dan 08.00 sampai di bandara Kuala Namu.
Sampailah diatas pesawat, siap meluncur dengan hati was-was. Penerbangan kali ini membuat aku deg-deg an, bukan hanya karena perasaan aku lagi ga enak karena mamak sakit disana dan pingin segera ketemu, tapi juga turbulensi kali ini sangat sering, hampir sepanjang perjalanan berasa guncangannya, sampai-sampai aku gabisa tidur didalam pesawat, padahal biasanya dalam pesawat aku tidur sepanjang perjalanan, kecuali saat naik pesawat malindo dari Kuala Lumpur ke Bandung.
Sampai di Bandara Kuala Namu enaknya karena aku ga pakai bagasi, jadi ga perlu antre bagasi. Langsung sajalah aku mengunjungi Paradep Taxi untuk ke Tebingtinggi. Harga tiket paradep dari bandara kuala namu ke Tebingtinggi maupun Siantar adalah Rp.55.000,-. Kenapa aku memilih untuk memilih Paradep, ya karena reputasinya baik dengan harga tiket yang udah jelas ga naik turun. Bis Paradep yang aku naiki kali ini ada 11 bangku penumpang. Kerennya di setiap bangku penumpang ada colokan untuk mengecas, idaman banget ga tuh? Sayangnya saat ada penumpang yang tanya "bang ini gabisa ngecas" dan dijawab oleh supirnya "rusak udah kak, nanti aja ya ngecas di rumah makan" kata supirnya. Beberapa kali aku naik kendaraan dari Bandara ke Tebingtinggi mau itu Paradep atau yang lain, mau jam berapapun keberangkatannya, bis pasti berhenti untuk makan.
Dan akhirnya rute terdekat menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kumpulan Pane, aku harus turun di simpang empat Tebingtinggi (sebenarnya lebih dekat turun di simpang neraka, tapi saat itu supirnya ga tau dan ga mau ribet, jadi yaudah sekalian olahraga lah jalan), dari simpang empat itu kita bisa berjalan kaki menuju ke RSUD Kumpulan pane.
bersambung . . . .
No comments:
Post a Comment