EPISODE 03 : CARA MENGOBATI DIABETES ATAU LUKA DI TEMPAT PRAKTEK DR SONNY GUMANTY
Akhirnya kita pulang, mamak keliatan seneng banget. itu sekitar jam setengah 11. Kak Ijur dan Bang Don sudah ke dr RPA itu, dan sudah tau tempatnya. Aku yang minta mereka survey dan jelaskan kondisi mamak, satu aku takut nanti bawa mamak tapi nyasar, kan kasian mamak lagi sakit terus dibawa jalan nyasar, dua karena mamak juga asam lambungnya mulai naik, takutnya dia hanya bisa mengobati diabetes tanpa komplikasi (pemikiran bodoh ga sih, kan dr umum, ya harusnya bisa ngobatin semua lah). Bang Don juga bilang dokternya praktek sampai jam 9 malam. Jadi kita ga begitu terburu-buru.
Kita Pulang dulu kerumah, karena barang-barang yang kita bawa dari rumah sakit hampir mirip dengan anak kuliahan yang pindah kosan. Ada kipas angin gede segala dibawa. Sampai rumah kemas-kemas barang dan cauu kita melaju meluncur menuju sei buluh tempat dr RPA praktek. Di perjalanan ga henti-hentinya Kak Ijur dan Bang Don menceritakan alkisah tentang dr RPA ini. Ceritanya "fotonya di luar keliatan biasa aja, item keriting, sepala ngeliat orangnya, duh ganteng, putih, ramah. Dari SMP dia udah bantu-bantu bapaknya ngebersihin luka busuk gitu, sampe sekarang udah jadi dokter, makanya berpengalaman sekali". Penasaran aku liat resep yang pernah dikasi ke mamak dari dr RPA itu dan aku liat namanya dr Sonny Gumanty. Mbah Google dong yang membantu banyak, infonya dia lulusan FK UISU dan dia mahasiswa angkatan tahun 2009 dan tergabung di IDI Toba Samosir (Ebuset dia lebih muda dong dari aku). Sosial media yang dapet cuma twitter tanpa postingan dan sudah ga pernah ngetweet lama sekali. Aku coba cari di instagram, eh signal aku sedang tidak lancar. Hebat kan aku kalau sedang penasaran? segala dicari.
Sampailah kami ke lokasi praktek dr Sonny Gumanty (ini yang tadinya kita sebut dr RPA). Kok sepi ya, konon katanya pasien dari dr ini banyak yang ngantri, kok tutup ya? karena posisi aku di mobil bagian belakang dan susah untuk keluar aku ga ikut-ikutan nanya-nanya warga dan ga juga bisa ngeliat plang tulisan praktek dokternya. Kak Ijur dan Bang Don masuk lagi ke dalam mobil, "udah tutup tadi jam 11 pagi" kata Bang Don. Ternyata eh ternyata itu dr Sonny cuma praktek dari pukul 07.00 s/d 09.00 WIB, terpampang di tulisannya, ebuset cuma dua jam cuy. Yasudah kita akan balik lagi besok jam 5 pagi berangkat dari rumah, (kalian pasti tau kalau ini hanya rencana ya guys) mengingat jaraknya sekitar 60-an km, dan waktu tempuh bisa sampai 1 jam dengan menggunakan mobil.
Besoknya (yang kebetulan Hari Rabu) kita datang gasik (awal-awal sekali/ lekas = bahasa jawa medan) jam setengah 6 kurang kita sudah ready and go. Sampai di TKP jam setengah 7, tempat prakteknya belum buka tapi sudah ada antrean, sudah ada sekeluarga (Ayah, Ibu dan Anak) mengendarai motor yang mendahului kami. Kita turun, sarapan dan nunggu tempat prakteknya dibuka. Sambil mengobrol ternyata yang mendahului kami adalah warga berastagi (kalian bisa lihat berastagi ke perbaungan berapa km di gmaps, sei buluh itu berada di perbaungan). Saat pintu tempat praktek dr Sonny (kita singkat lagi ya dengan sebutan TPDS) ada lagi calon pasien yang berdatangan. Kita langsung mendaftar, antrean pertama pasien dari berastagi, namanya Sumiati. Antrean kedua mamakku dengan nama Sumiati 2 (ya karena namanya sama, terpaksa ada sumiati 2).
Giliran kita sudah dipanggil, masuklah kita ke ruangan praktek, benar saja ini dokter memenuhi syarat yang diinginkan para pasien, (1) Dia good looking, ya setidaknya walaupun kata orang ganteng itu relatif, tapi aku yakin, belum ada orang yang bilang dr Sonny ini jelek (dengan serius, bukan becandaan) ditambah lagi dia memang masih muda. (2) Dia sopan terhadap pasiennya, untuk memakai masker aja dia ijin dulu sama mamakku "pake masker ya nek, bukan karena bau kok, cuma takut aja ada yang lompat ke mulut, banyak omong awak soalnya". (3) Dia langsung yang ngerjai semuanya, kecuali cuma sekedar cek tensi, kadar gula darah, dan hal kecil lain. (4) Orangnya ramah banget, satu hal yang terkesan saat pertemuan kedua dia ingat sama kita bahkan cerita-cerita kita, kerjaan aku, anak Kak Ita, dan hal-hal kecil lainnya. Intinya pertemuan pertama dengan dr Sonny mamak dibersihkan kakinya dari klorin, dan membuang nanah-nanah dari lukanya (maaf ya) plus suntik neurobion di bagian pantat mamak yang dilakukan oleh perawat yang dr Sonny memanggilnya "ci" entah emmang namanya eci, atau cici, atau desi. Hari pertama biaya konsultasi dan obat-obat membersihkan luka, aku lupa pasti nominalnya tapi sekitar Rp. 250.000,-. Tidak ada obat dari dr nya langsung, kita diminta menebus obat di Apotek Sejahtera di Perbaungan kota, alasannya adalah karena di apotek lain takutnya ga ada dan diganti dengan obat yang fungsinya sama menurut apoteker. Kita turuti dan wow harga obat yang kami tebus sampai Rp. 750.000,-. ada satu obat dari jepang yang namanya xeniji dikata harganya sekitar Rp. 75.000,-/pcs.
Pertemuan kedua: ini hari kamis, kita berangkat di jam yang sama, dan masih tetap keduluan. Kalau hari pertama kita keduluan oleh Bu Sumiati dari Berastagi, hari kedua kita keduluan oleh bapak Bebas Karo-Karo dari Binjai. Pertemuan kedua seperti biasa, dr Sonny dengan ramah menyambut kita sekeluarga, ngajakin becanda supaya kita bisa ketawa atau minimal senyumlah. Sambil dia ngebersihin luka mamak tanpa menggunakan masker, karena percuma karena saat pertemuan pertama dia menggunakan masker juga lebih sering dibuka ketimbang ditutup. Entah dia lagi pilek ataukah emang dia sudah kebal dengan aroma busuk luka diabetes. Hari ini masih sama membersihkan bagian nanah yang masih ada, dan dr Sonny bilang "besok potong ya ini?" sambil menunjuk jari manis kaki kanan mamak dengan santainya. Tak lupa ritual dr Sonny saat setelah selesai konsultasi dan akan pembayaran yaitu menyalami kami satu persatu dan mendoakan supaya mamak segera sembuh. Keluar dari ruang praktek mamak pandangannya kosong, saat aku gendong ke kursi tunggu, dan akan diangkat menuju mobil mamak dengan pelan "kok dipotong?" dengan tatapan kosongnya. "iya mek (panggilan aku terhadap mamak, saat kecil sebenarnya manggilnya mamak ek, yang akhirnya persingkat menjadi amek = dengan e lemah ya bacanya) karena jari manisnya udah item, udah mati loh mek, gapapa yah?" dengan lemah lembut dan hati-hati aku menjelaskan, karena mamakku super sensitif.
Kita cerita tentang mamakku yang super sensitif dulu ya, saat masih dirumah sakit, ada salah satu cucunya yang kelas 3 SD menjenguk dan sambil tutup hidung, saat pulang abislah kepalanya kenak tokok (bahasa tebing). dua saat Kak Ani menjenguk, dan cerita-cerita dan ujungnya ada kata "yang penting sembuh", mamak langsung marah "jelek kali doamu, kok ga mungkin sembuh pulak" (padahal dia yang salah dengar). biaya konsultasi dan obat hari ini aku juga masih lupa pastinya, sekitar Rp. 250.000,- juga kayaknya.
Pertemuan ketiga : masih berangkat di jam yang sama dan ini hari jumat, kita keduluan lagi dan kali ini kita keduluan oleh banyak orang. kita ada di antrean nomor 5, yang mendului kita salah satunya dari jambi (just for your information ya, perjalanan Perbaungan ke Jambi itu bisa sampai 36 jam lebih kawan). We O We banget ga sih dr Sonny bisa famous dengan radius yang sebegitu jauhnya, pokoknya siaran radio FM kalah radiusnya, lintas provinsi loh. Nah di pertemuan ketiga ini yang mendampingi mamak ada aku, Bang Don, Kak Ijur, dan Bang Mul. Tapi saat dr Sonny mulai menggunting tulang dan ada bunyi krktek krtek semua pada kabur. Hari ini resmi dua jari mamak dipotong, dan dikubur di sekitaran rumah kami. Ada surat yang harus aku tandatangani sebagai persetujuan amputasi, dan dr Sonny cerita "kalau di rumah sakit lumayan juga ini bang potong kek gini bisa sampe jutaan", iya ya aku percaya dengan itu. Dan saat dr Sonny ngebersihin luka mamak dia selalu nunjukkin ke aku, ya seakan ngajari nanti kalau nanti sudah ga rutin kesini, bersihin sendiri dirumah beginilah caranya. Tekan sedikit dengan lady's hand sampai pada keluar nanahnya, buangin lapisan putih diatas luka, oles pake bioplacenton, taburi dengan nebacitin powder, tutup pake perban, pake tissue, jadi deh. Hari Ketiga, ada tambahan obat yang diresepkan ke apotek, kali ini obatnya boleh di apotek mana saja, ada obat yang di stop karena baru di amputasi. Biaya konsultasi dan amputasi hari ini mencapai Rp. 335.000,-. Nah dan penebusan obat hari ini sekitar Rp. 210.000,- disitu sudah termasuk nebacitin powder dan juga bioplacentone. Untuk persiapan mengganti perban besok.
Sedikit cerita tentang kemanjaan mamakku terhadap anak kesayangannya ini ya. Hari pertama dia dapet obat yang banyak dari dr Sonny, "kok gede-gede kali obatnya, mana kholu (seperti tidak mampu menelan = bahasa jawa medan), pake pisang lah dek", shiyuu langsung bergegas ke kedai sampah (warung sembako = bahasa medan) di sekitaran rumah, dan hasilnya ga ada. Pinjem motor Kak Ita untuk mencari di warung buah di simpang (jarak 3km), hasilnya ga ada juga. Pulang dengan tangan kosong dan mamak masih menunggu, "ga ada mek". "yaudahlah di ncur aja" maksudnya dihancurkan. Dug dug dug di dapur rumah Kak Ijur aku berusaha menghaluskan obatnya, dan udah lembut aku masukin ke sendok supaya dikasi air hangat (informasi lagi, mamakku ga pernah bisa minum air putih dengan suhu normal, harus hangat). "kok disendok?" bergegaslah aku ke dapur mencari mangkok menuruti titah baginda ratu, mangkok berbahan kaca supaya ga ada yang nyangkut di wadah gitu maksudnya. Aku menyerahkan obat yang udah dihancurkan tadi, masih diatas sendok, dan sendoknya aku masukkan ke mangkok kaca, belum berani aku untuk menuangkan air hangat ke mangkok, takut salah. "kasi aer anget lah" titah diterima dan aku menuangkan air hangat ke mangkok, aku masukkan obat yang sudah menjadi bubuk tadi, ku aduk dan "kok banyak kali airnya?" baginda ratu mengeluh sodara-sodara, padahal volume air itu jika dihitung hampir sama dengan dua kali volume sendok. Sekian. Itulah gambaran kesibukan saya sehari hari. Ga semua diingat, tapi setiap hari akan ada titah-titah demikian, ada yang mengipasi beliau hingga terlelap dengan buku gambar, ada yang gendong dia ke kasur semenit kemudian minta di gendong ke kursi tengah, dan lain-lain. Ini bukan ghibah ya, hanya share pengalaman dan bukan aib, karena ini bukan dosa dia. Supaya sekedar kalian tahu bahwa "bukan cuma mama kalian yang terkadang nyebelin, tapi mamakku juga gitu kadang-kadang" makanya nurun ke anaknya. Sekarang kalian tahu kan sejarah kenapa Aje bisa nyebelin.
Barusan aja, ada tolet-tolet lewat, mamak minta "beli rujak dek, tapi semangkanya aja". Oke aku panggil tukang rujak, belikan semangka di potong-potong. Aku belikan 3 potong harganya jadi enam ribu. aku bawa masuk dan "loh, berapa itu, kok banyak kali?". "enam ribu mek" jawab aku sudah curiga, pasti salah lagi. "dua ribu aja udah banyak pun" bantahnya, "iya mek" sambil tertunduk. "padahal dua ribu aja udah banyak loh", kalimat itu bisa diulang berkali kali loh bray.
Hari ini hari Sabtu guys, hari ini kita ga berangkat ke dr Sonny, dan tugas ambo kali ini adalah membersihkan luka mamak (for the first time). Ke apotek dulu, beli perban, beli plaster, beli gunting, beli masker sekotak. Pengeluaran sekitar Rp. 60.000,-. menjalankan misiku, cuci tangan, ijin ke mamak "mek, awak pake masker gapapa?", dan mamak langsung menjawab "hah??" bukan karena marah tapi karena ga kedengeran, sepertinya banyak obat-obatan ini berimbas terhadap pendengarannya. akhirnya diperbolehkan, dan aku siap tempur mempraktekkan cara membersihkan luka diabetes yang diajarkan oleh dr Sonny.
Hari ini hari Minggu, 28 Januari 2018 aku minta Bang Don dan Kak Ita nemenin ke dr Sonny, seharusnya besok sih jadwalnya, tapi kan aku juga butuh evaluasi pekerjaanku kemarin. Hari ini biasa aja, hanya ada tambahan orang, adik dr Sonny juga ada di tempat praktek, setau aku adik dr Sonny itu temannya mantan murid aku yang baru lulus di kedokteran USU. Sepertinya dia bantu abangnya juga untuk menambah wawasan dan skill kedokterannya. Dan hari ini ada kejadian memalukan serta bukti bahwa dr Sonny tidak memeras dompet kita, dan dr Sonny tulus membantu pasiennya. Pagi ini karena kita berangkat lebih terlambat, maka kita entah berada di antrean nomor berapa. Dari rumah banyak yang ketinggalan, (1) Obat-obatan mamak ketinggalan, sehingga mamak kelewatan minum obat pagi. (2) Termos mamak ketinggalan (termos itu wadah air minum yang dapat mempertahankan suhu air didalamnya), jadi dijalan kita terpaksa beli teh manis panas untuk mamak. Loh, mamak kan diabetes, kenapa boleh minum teh manis? Nah, dr Sonny cuma melarang mamak makan daging dan durian. Logika yang dr Sonny jelaskan, semakin banyak dilarang, semakin ga makan apa-apa mamak, semakin lemas dan semakin lama sembuhnya.
Nah kejadian memalukannya dimana? Dari rumah aku sudah bilang ke Kak Ita bahwa di dompet mamak uang cuma sekitar Rp. 270.000,- (uang yang didompet mamak itu berasal dari kita yang dikumpulkan, baik dari anaknya, maupun yang jengukin mamak selama di RS dan di rumah). Kak Ita dan Bang Don bilang "pasti cukuplah, orang cuma mau ganti perban doang kok". ternyata kurang sodara-sodara. Tapi dari sini aku bisa ngeliat bahwa emang dr ini memang punya hati untuk menolong sesama, kekurangannya dibayar nanti aja kalau kesini lagi, itu juga kalau ingat, kalau ga ingat Saya ikhlas kok. begitu jawabnya.
No comments:
Post a Comment